Santiago, Chile - Di dalam lapangan Homeless World Cup
2014, Rizal Sepuloh (23 tahun) senantiasa berlari penuh semangat, gigih
mengejar lawan-lawan tim Indonesia.
Di luar lapangan, pemuda yang akrab disapa Ateng itu dengan ceria selalu menyapa orang yang berpapasan dengannya. Pemandangan itu takkan hadir jika saja sembilan tahun lalu Ateng tidak berpaling dari obat-obatan terlarang dan fokus ke olahraga.
Di Santiago, Chile, Ateng dituntut mesti menutup setiap jengkal ruang kosong dan terus-menerus menekan pemain lawan. Kendati berpostur mungil, tubuhnya yang liat dan kegigihannya di atas lapangan niscaya cukup mengintimidasi siapapun yang ia hadapi.
Kelihaiannya mengolah si kulit bundar itu salah satunya ia perlihatkan ketika Indonesia menggulung Korea Selatan 14-1 di babak penyisihan grup, Selasa (21/10). Saat itu Ateng mencetak tiga gol di menit-menit awal, yang membuatnya jadi pemain terbaik dan diwawancarai oleh panitia lokal setelah pertandingan.

Di luar lapangan, tindak-tanduk penyuka klub Bayern Munich itu sama sekali tidak seberingas ketika sedang bermain. Bukan cuma penuh senyum dan senang bergurau, Ateng juga punya pembawaan nan ramah. Tak jarang ia bergabung dengan para pemain tim lain untuk joget bersama. Acapkali pula ia berakrab ria dengan orang yang berpapasan dengannya di kota Santiago, Chile. "Ola, ola," demikian sapaan yang paling fasih diucapkan Ateng.
Melihat keceriaan dan keriangannya saat ini, sulit membayangkan jika di masa lalu ia pernah terjerumus ke dunia obat-obatan terlarang pada usia yang amat muda sampai sempat tidak diakui keluarga.
"Awal kenal obat itu Lexotan, kelas 5 SD. Gara-gara lingkungan," akunya dengan logat Jawa Barat yang kental.
Akibat perkenalannya dengan obat-obatan itu pula Ateng mulai malas-malasan dengan pendidikannya. Jadilah ia cuma jadi tamatan SD. "Sampai suka dipukul disuruh sekolah, tapi saat itu Ateng tetap nggak mau sekolah," kisahnya.
Sudah tak sekolah, pergaulan Ateng dengan obat-obatan terlarang kian menjadi. Tetapi titik balik lalu terjadi ketika ia berusia sekitar 15 tahun.
"Ada teman, namanya Sulaiman, sering ngajak main sepakbola. Ateng memang suka main sepakbola dari kecil."
Mulai dari situ hidup Ateng berubah. Fokusnya mulai berpindah. Ia pun sempat mengikuti seleksi untuk tim Persib Suratin, meski tak kunjung mendapat hasil yang diinginkan. Ada kalanya kekecewaan ia larikan ke minuman keras, meski tidak sampai balik ke obat-obatan.
Seiring dengan perjalanan waktu, Ateng mulai beralih ke lapangan futsal dan mendapatkan kegembiraan yang ia cari. Kini alkohol pun mulai dijauhi.
"Keluarga juga sering mengingatkan agar tidak seperti dulu lagi," tutur anak ketiga dari empat bersaudara tersebut.
Kian menggembirakan karena ia juga sadar betapa pentingnya pendidikan. "Ateng sudah dapat ijazah SMP dari program Kejar Paket, dulu itu diajak sama Yayasan Bina Anak Bangsa yang memang banyak ngurus anak jalanan. Kalau sekarang namanya Yayasan Bahtera."
Sepulangnya dari Chile, Ateng pun sudah ancang-ancang membidik langkah selanjutnya guna menata hidup. Pengagum Dani Alves itu--akibat kesamaan posisi main dengan bek kanan Brasil tersebut saat tampil di lapangan besar--ingin mendapatkan ijazah SMA demi mencari kerja dan membahagiakan keluarga.
"Ateng inginnya main futsal terus. Sudah ada kantor yang nawarin kerja sambil main futsal tapi syaratnya ijazah SMA, jadi Ateng sekarang ngincar itu," sebut Ateng sambil tersenyum mantap.
Di luar lapangan, pemuda yang akrab disapa Ateng itu dengan ceria selalu menyapa orang yang berpapasan dengannya. Pemandangan itu takkan hadir jika saja sembilan tahun lalu Ateng tidak berpaling dari obat-obatan terlarang dan fokus ke olahraga.
Di Santiago, Chile, Ateng dituntut mesti menutup setiap jengkal ruang kosong dan terus-menerus menekan pemain lawan. Kendati berpostur mungil, tubuhnya yang liat dan kegigihannya di atas lapangan niscaya cukup mengintimidasi siapapun yang ia hadapi.
Kelihaiannya mengolah si kulit bundar itu salah satunya ia perlihatkan ketika Indonesia menggulung Korea Selatan 14-1 di babak penyisihan grup, Selasa (21/10). Saat itu Ateng mencetak tiga gol di menit-menit awal, yang membuatnya jadi pemain terbaik dan diwawancarai oleh panitia lokal setelah pertandingan.
Di luar lapangan, tindak-tanduk penyuka klub Bayern Munich itu sama sekali tidak seberingas ketika sedang bermain. Bukan cuma penuh senyum dan senang bergurau, Ateng juga punya pembawaan nan ramah. Tak jarang ia bergabung dengan para pemain tim lain untuk joget bersama. Acapkali pula ia berakrab ria dengan orang yang berpapasan dengannya di kota Santiago, Chile. "Ola, ola," demikian sapaan yang paling fasih diucapkan Ateng.
Melihat keceriaan dan keriangannya saat ini, sulit membayangkan jika di masa lalu ia pernah terjerumus ke dunia obat-obatan terlarang pada usia yang amat muda sampai sempat tidak diakui keluarga.
"Awal kenal obat itu Lexotan, kelas 5 SD. Gara-gara lingkungan," akunya dengan logat Jawa Barat yang kental.
Akibat perkenalannya dengan obat-obatan itu pula Ateng mulai malas-malasan dengan pendidikannya. Jadilah ia cuma jadi tamatan SD. "Sampai suka dipukul disuruh sekolah, tapi saat itu Ateng tetap nggak mau sekolah," kisahnya.
Sudah tak sekolah, pergaulan Ateng dengan obat-obatan terlarang kian menjadi. Tetapi titik balik lalu terjadi ketika ia berusia sekitar 15 tahun.
"Ada teman, namanya Sulaiman, sering ngajak main sepakbola. Ateng memang suka main sepakbola dari kecil."
Mulai dari situ hidup Ateng berubah. Fokusnya mulai berpindah. Ia pun sempat mengikuti seleksi untuk tim Persib Suratin, meski tak kunjung mendapat hasil yang diinginkan. Ada kalanya kekecewaan ia larikan ke minuman keras, meski tidak sampai balik ke obat-obatan.
Seiring dengan perjalanan waktu, Ateng mulai beralih ke lapangan futsal dan mendapatkan kegembiraan yang ia cari. Kini alkohol pun mulai dijauhi.
"Keluarga juga sering mengingatkan agar tidak seperti dulu lagi," tutur anak ketiga dari empat bersaudara tersebut.
Kian menggembirakan karena ia juga sadar betapa pentingnya pendidikan. "Ateng sudah dapat ijazah SMP dari program Kejar Paket, dulu itu diajak sama Yayasan Bina Anak Bangsa yang memang banyak ngurus anak jalanan. Kalau sekarang namanya Yayasan Bahtera."
Sepulangnya dari Chile, Ateng pun sudah ancang-ancang membidik langkah selanjutnya guna menata hidup. Pengagum Dani Alves itu--akibat kesamaan posisi main dengan bek kanan Brasil tersebut saat tampil di lapangan besar--ingin mendapatkan ijazah SMA demi mencari kerja dan membahagiakan keluarga.
"Ateng inginnya main futsal terus. Sudah ada kantor yang nawarin kerja sambil main futsal tapi syaratnya ijazah SMA, jadi Ateng sekarang ngincar itu," sebut Ateng sambil tersenyum mantap.

No comments:
Post a Comment