Jakarta - Dalam 12 pertandingannya yang terakhir Timnas
U-19 hanya bisa meraih satu kali kemenangan. Performa mereka menurun
sejak tampil di Brunei Darussalam.
Sejak memenangi babak kualifikasi Piala Asia U-19 di bulan Oktober 2013, anak-anak asuhan Indra Sjafri dihadapkan pada puluhan pertandingan ujicoba, baik di dalam maupun luar negeri.
Agenda panjang itu dimulai pada awal Februari 2014 dalam Tur Nusantara Jilid I. Selama sebulan lebih mereka melakoni 10 laga, di luar satu partai yang tidak selesai karena lampu di stadion mati, dan satu batal. Dari 10 kali bertanding itu Evan Dimas dkk. superior: menang 9 kali, seri sekali.
Setelah itu, di bulan April timnas dikirim ke Timur Tengah. Selain menunaikan ibadah umroh mereka juga disodori 5 pertandingan. Di sana mereka masih didjaya: menang 3 kali, seri 1 kali, dan cuma kalah 1 kali.
Sempat "libur" selama satu bulan, skuat "Garuda Muda" kembali melakoni Tur Nusantara (Jilid II). Total mereka main 7 kali, dan kembali tidak terkalahkan, serta memenangi lima di antaranya.
"Gangguan" muncul ketika PSSI/BTN membatalkan rencana mengirim Timnas U-19 ke turnamen junior di Valencia, Spanyol. Coach Indra sempat mengungkapkan kekecewaannya atas pembatalan tersebut. Para pemain juga disebut-sebut "bête"—atau istilah anak muda sekarang: diberi PHP.
PSSI kemudian menggantinya dengan mengirim pasukan muda itu ke turnamen Hassanal Bolkiah Trophy di Brunei Darussalam di bulan Agustus. Di situ, "tiba-tiba" permainan Timnas U-19 mulai "lain dari biasanya"Setelah bermain imbang 0-0 melawan Malaysia, berturut-turut mereka menelan kekalahan dari Brunei (1-3), Vietnam (1-3), dan Kamboja (1-2). Sedikit lumayan, di laga terakhirnya mereka bisa menghantam Singapura 6-0.
Di situ, kritik bahkan "hujatan" mulai diterima Timnas U-19. Taktik Indra dianggap monoton, tidak variatif, dan mudah ditebak tim-tim lawan. Bagusnya, toh turnamen itu tetap sekadar ujicoba, karena sasaran utama tetapkan Piala Asia.
Sebulan kemudian, setelah PSSI mendapat sponsor (Nine Sports dan tentu saja dari hak siar televisi), Timnas U-19 jadi dikirim ke Spanyol, kali itu untuk menjajal tim junior empat klub elite: Atletico B, Valencia B, Barcelona B, dan Real Madrid C, dan Barcelona B. Kecuali menahan seri Valencia B 1-1, lainnya mereka kalah. Hanya saja, kekalahan itu masih bisa "dimaklumi" mengingat lawan-lawan mereka adalah klub Eropa yang memang punya reputasi dunia. Bahkan saat melawan Barcelona B, ada Luis Suarez dan Thomas Vermaelen ada di dalamnya. (Lihat grafiknya di sini)
Hanya menang satu kali dari 9 pertandingan terakhirnya, Timnas U-19 pun berangkat ke Myanmar. Sayangnya, mereka justru kehilangan momentum. Kalah 1-3 dari Uzbekistan di laga pertama, Indonesia juga tumbang 0-1 dari Australia, dan tadi malam menyerah 1-4 dari Uni Emirat Arab, yang pernah dua kali mereka tundukkan di bulan April.
Apa mau dikata, mimpi yang dicanangkan Coach Indra dan PSSI, bahwa Indonesia bisa menembus Piala Dunia U-20, terbang.(detikSepakbola)
Sejak memenangi babak kualifikasi Piala Asia U-19 di bulan Oktober 2013, anak-anak asuhan Indra Sjafri dihadapkan pada puluhan pertandingan ujicoba, baik di dalam maupun luar negeri.
Agenda panjang itu dimulai pada awal Februari 2014 dalam Tur Nusantara Jilid I. Selama sebulan lebih mereka melakoni 10 laga, di luar satu partai yang tidak selesai karena lampu di stadion mati, dan satu batal. Dari 10 kali bertanding itu Evan Dimas dkk. superior: menang 9 kali, seri sekali.
Setelah itu, di bulan April timnas dikirim ke Timur Tengah. Selain menunaikan ibadah umroh mereka juga disodori 5 pertandingan. Di sana mereka masih didjaya: menang 3 kali, seri 1 kali, dan cuma kalah 1 kali.
Sempat "libur" selama satu bulan, skuat "Garuda Muda" kembali melakoni Tur Nusantara (Jilid II). Total mereka main 7 kali, dan kembali tidak terkalahkan, serta memenangi lima di antaranya.
"Gangguan" muncul ketika PSSI/BTN membatalkan rencana mengirim Timnas U-19 ke turnamen junior di Valencia, Spanyol. Coach Indra sempat mengungkapkan kekecewaannya atas pembatalan tersebut. Para pemain juga disebut-sebut "bête"—atau istilah anak muda sekarang: diberi PHP.
PSSI kemudian menggantinya dengan mengirim pasukan muda itu ke turnamen Hassanal Bolkiah Trophy di Brunei Darussalam di bulan Agustus. Di situ, "tiba-tiba" permainan Timnas U-19 mulai "lain dari biasanya"Setelah bermain imbang 0-0 melawan Malaysia, berturut-turut mereka menelan kekalahan dari Brunei (1-3), Vietnam (1-3), dan Kamboja (1-2). Sedikit lumayan, di laga terakhirnya mereka bisa menghantam Singapura 6-0.
Di situ, kritik bahkan "hujatan" mulai diterima Timnas U-19. Taktik Indra dianggap monoton, tidak variatif, dan mudah ditebak tim-tim lawan. Bagusnya, toh turnamen itu tetap sekadar ujicoba, karena sasaran utama tetapkan Piala Asia.
Sebulan kemudian, setelah PSSI mendapat sponsor (Nine Sports dan tentu saja dari hak siar televisi), Timnas U-19 jadi dikirim ke Spanyol, kali itu untuk menjajal tim junior empat klub elite: Atletico B, Valencia B, Barcelona B, dan Real Madrid C, dan Barcelona B. Kecuali menahan seri Valencia B 1-1, lainnya mereka kalah. Hanya saja, kekalahan itu masih bisa "dimaklumi" mengingat lawan-lawan mereka adalah klub Eropa yang memang punya reputasi dunia. Bahkan saat melawan Barcelona B, ada Luis Suarez dan Thomas Vermaelen ada di dalamnya. (Lihat grafiknya di sini)
Hanya menang satu kali dari 9 pertandingan terakhirnya, Timnas U-19 pun berangkat ke Myanmar. Sayangnya, mereka justru kehilangan momentum. Kalah 1-3 dari Uzbekistan di laga pertama, Indonesia juga tumbang 0-1 dari Australia, dan tadi malam menyerah 1-4 dari Uni Emirat Arab, yang pernah dua kali mereka tundukkan di bulan April.
Apa mau dikata, mimpi yang dicanangkan Coach Indra dan PSSI, bahwa Indonesia bisa menembus Piala Dunia U-20, terbang.(detikSepakbola)

No comments:
Post a Comment