Yangon - Soal pengamanan, Piala Asia U-19 di Myanmar
ini boleh dibilang cukup ketat. Bahkan satu unit mesin sinar-X
dioperasikan di pemeriksaan ring satu menuju stadion Thuwunna.
Ada tiga lapis pengamanan yang diterapkan di ajang Piala Asia U-19. Pada ring pertama, mobil yang tak memiliki tanda pengenal khusus dihentikan sekitar satu kilometer menuju jalan masuk stadion.
Untuk ring kedua, pengamanan akan memastikan bahwa semua pemegang lD card dari konfederasi sepakbola Asia (AFC), dan juga suporter masuk melalui pintu yang sudah ditentukan.
Di ring berikutnya, penjagaan benar-benar ketat. Untuk gerbang media, pemeriksaan pemegang ID peliputan benar-benar diperhatikan.
Pencocokan wajah yang dilakukan oleh petugas keamanan sampai beberapa kali untuk memastikan bahwa ID itu dipegang oleh nama yang tertera dalam kartu itu.
Selepas itu, barang bawaan menjadi sasaran pemeriksaan berikutnya. Seluruh isi tas diperiksa dan dibuka hingga kantong terkecil.
Lolos dari dari pemeriksaan manual, tas pun masih harus masuk ke pemindaian sinar X layaknya di bandara untuk memastikan tidak ada benda berbahaya yang masuk ke stadion.
Pengamanan ketat seperti ini sepertinya layak dicontoh oleh penyelanggara pertandingan laga-laga sepakbola di Indonesia, apalagi untuk laga tim nasional.
PSSI pernah didenda sebesar lima ribu dollar AS oleh AFC, karena ulah suporter yang menyalakan flare pada laga timnas Indonesia U-19 kontra Korea Selatan U-19 di ajang Pra Piala Asia U-19, 12 Oktober tahun lalu.(detikSepakbola)
Ada tiga lapis pengamanan yang diterapkan di ajang Piala Asia U-19. Pada ring pertama, mobil yang tak memiliki tanda pengenal khusus dihentikan sekitar satu kilometer menuju jalan masuk stadion.
Untuk ring kedua, pengamanan akan memastikan bahwa semua pemegang lD card dari konfederasi sepakbola Asia (AFC), dan juga suporter masuk melalui pintu yang sudah ditentukan.
Di ring berikutnya, penjagaan benar-benar ketat. Untuk gerbang media, pemeriksaan pemegang ID peliputan benar-benar diperhatikan.
Pencocokan wajah yang dilakukan oleh petugas keamanan sampai beberapa kali untuk memastikan bahwa ID itu dipegang oleh nama yang tertera dalam kartu itu.
Selepas itu, barang bawaan menjadi sasaran pemeriksaan berikutnya. Seluruh isi tas diperiksa dan dibuka hingga kantong terkecil.
Lolos dari dari pemeriksaan manual, tas pun masih harus masuk ke pemindaian sinar X layaknya di bandara untuk memastikan tidak ada benda berbahaya yang masuk ke stadion.
Pengamanan ketat seperti ini sepertinya layak dicontoh oleh penyelanggara pertandingan laga-laga sepakbola di Indonesia, apalagi untuk laga tim nasional.
PSSI pernah didenda sebesar lima ribu dollar AS oleh AFC, karena ulah suporter yang menyalakan flare pada laga timnas Indonesia U-19 kontra Korea Selatan U-19 di ajang Pra Piala Asia U-19, 12 Oktober tahun lalu.(detikSepakbola)

No comments:
Post a Comment