London - Subjek mengenai sepakbola seharusnya
dikembalikan kepada suporter menghangat di Inggris. Setelah harga tiket
yang makin mahal dikritik, kini muncul usulan untuk memberikan tempat
pada suporter dalam direksi klub di Inggris dan Wales.
Wacana tersebut didengungkan oleh Partai Buruh Inggris yang merasa bahwa suporter adalah darah dan hidup dari sebuah klub. Manifesto ini berencana diwujudkan jika Partai Buruh menang pada pemilihan umum berikutnya.
Tentu, untuk suporter, manifesto tersebut mendapatkan sambutan positif. Supporters Direct, sebuah grup yang membantu kelompok-kelompok suporter di tiap klub untuk membentuk Supporters' Trust (kelompok independen yang biasanya bersuara lantang terhadap kebijakan direksi klub), menilai bahwa inilah yang sudah dicari-cari dan ditunggu-tunggu kelompok suporter selama bertahun-tahun.
"Yang paling penting dari proposal tersebut adalah kehadiran fans di dalam jajaran direksi," ujar Kevin Rye dari Supporters Direct kepada Sky Sports.
"Dampak terbesar dari ini adalah suporter bisa berada dalam proses pembuatan keputusan dan itu bisa memengaruhi bagaimana sebuah klub dijalankan --juga bisa memengaruhi bagaimana olahraga ini dijalankan di level atas."
"Dampaknya juga bakal signifikan dan akan memengaruhi bagaimana sebuah klub dijalankan dan dimiliki."
Lewat manifesto yang didengungkan oleh Partai Buruh itu, pihak klub diminta untuk setidaknya menaruh dua orang dari kubu suporter di dalam jajaran dewan direksi.
Perseteruan antara kelompok suporter dan pemilik klub bukanlah hal yang baru di Liga Inggris, terutama di Premier League. Ambil contoh Manchester United. Sudah sejak lama para suporter United mendengungkan gerakan LUHG (Love United Hate Glazers) untuk mengkritisi Keluarga Glazer yang memiliki klub mereka.
Bukan rahasia apabila Keluarga Glazer menaruh utang yang amat besar kepada United. Utang tersebut berasal dari pinjaman Keluarga Glazer ketika mereka akan membeli United. Mengingat klub berjuluk 'Setan Merah' tersebut telah mereka miliki, Keluarga Glazer pun memindahkan utang pribadi menjadi utang klub.
Contoh lainnya juga bisa dilihat dari kebencian suporter Liverpool kepada pemilik klub sebelum ini, George Gillet dan Tom Hicks. Keduanya dianggap tidak becus oleh suporter dalam menjalankan klub dan dinilai tak tahu apa-apa soal sepakbola.
Ini bukan pertama kalinya dalam pekan ini subjek soal sepakbola sebaiknya dikembalikan kepada suporter mencuat. Seperti diberitakan sebelumnya, Minister for Sport and Equalities Inggris Helen Grant melontarkan kritik keras lantaran sepakbola kini tidak bisa dinikmati suporter yang keuangannya seret.
Diketahui baru-baru ini, terjadi lonjakan kenaikan yang besar dari tiket pertandingan sepakbola di Inggris. Untuk tiket per laga, rata-rata yang temurah dari Premier League sampai kelas League Two adalah 21,49 poundsterling, atau sekitar Rp 420 ribu.
Kenaikan itu mencapai 13% sejak 2011, sementara di saat yang sama biaya hidup orang Inggris naik "hanya" 6,8%. Dari tahun ke tahun kenaikan harga tiket pertandingan 4,4%, atau lebih dari tiga kali dari angka inflasi sebesar 1,2%.
"Saya merasa klub-klub tidak semestinya tidak menganggap fans," cetus Grant seperti dikutip BBC.
"Saya bisa paham kenapa fans merasa jengkel. Saya pun merasa jengkel. Fans adalah darah yang menghidupi permainan ini. Tanpa fans, sepakbola takkan menjadi seperti sekarang ini.
"Untuk membawa satu keluarga yang berjumlah 4 orang, ke sebuah pertandingan Premier League, sekarang kita perlu 130 pound (Rp 2,5 juta). Itu belum termasuk bensin, parkir, makan dan minum," kata Grant.(detikSport)
Wacana tersebut didengungkan oleh Partai Buruh Inggris yang merasa bahwa suporter adalah darah dan hidup dari sebuah klub. Manifesto ini berencana diwujudkan jika Partai Buruh menang pada pemilihan umum berikutnya.
Tentu, untuk suporter, manifesto tersebut mendapatkan sambutan positif. Supporters Direct, sebuah grup yang membantu kelompok-kelompok suporter di tiap klub untuk membentuk Supporters' Trust (kelompok independen yang biasanya bersuara lantang terhadap kebijakan direksi klub), menilai bahwa inilah yang sudah dicari-cari dan ditunggu-tunggu kelompok suporter selama bertahun-tahun.
"Yang paling penting dari proposal tersebut adalah kehadiran fans di dalam jajaran direksi," ujar Kevin Rye dari Supporters Direct kepada Sky Sports.
"Dampak terbesar dari ini adalah suporter bisa berada dalam proses pembuatan keputusan dan itu bisa memengaruhi bagaimana sebuah klub dijalankan --juga bisa memengaruhi bagaimana olahraga ini dijalankan di level atas."
"Dampaknya juga bakal signifikan dan akan memengaruhi bagaimana sebuah klub dijalankan dan dimiliki."
Lewat manifesto yang didengungkan oleh Partai Buruh itu, pihak klub diminta untuk setidaknya menaruh dua orang dari kubu suporter di dalam jajaran dewan direksi.
Perseteruan antara kelompok suporter dan pemilik klub bukanlah hal yang baru di Liga Inggris, terutama di Premier League. Ambil contoh Manchester United. Sudah sejak lama para suporter United mendengungkan gerakan LUHG (Love United Hate Glazers) untuk mengkritisi Keluarga Glazer yang memiliki klub mereka.
Bukan rahasia apabila Keluarga Glazer menaruh utang yang amat besar kepada United. Utang tersebut berasal dari pinjaman Keluarga Glazer ketika mereka akan membeli United. Mengingat klub berjuluk 'Setan Merah' tersebut telah mereka miliki, Keluarga Glazer pun memindahkan utang pribadi menjadi utang klub.
Contoh lainnya juga bisa dilihat dari kebencian suporter Liverpool kepada pemilik klub sebelum ini, George Gillet dan Tom Hicks. Keduanya dianggap tidak becus oleh suporter dalam menjalankan klub dan dinilai tak tahu apa-apa soal sepakbola.
Ini bukan pertama kalinya dalam pekan ini subjek soal sepakbola sebaiknya dikembalikan kepada suporter mencuat. Seperti diberitakan sebelumnya, Minister for Sport and Equalities Inggris Helen Grant melontarkan kritik keras lantaran sepakbola kini tidak bisa dinikmati suporter yang keuangannya seret.
Diketahui baru-baru ini, terjadi lonjakan kenaikan yang besar dari tiket pertandingan sepakbola di Inggris. Untuk tiket per laga, rata-rata yang temurah dari Premier League sampai kelas League Two adalah 21,49 poundsterling, atau sekitar Rp 420 ribu.
Kenaikan itu mencapai 13% sejak 2011, sementara di saat yang sama biaya hidup orang Inggris naik "hanya" 6,8%. Dari tahun ke tahun kenaikan harga tiket pertandingan 4,4%, atau lebih dari tiga kali dari angka inflasi sebesar 1,2%.
"Saya merasa klub-klub tidak semestinya tidak menganggap fans," cetus Grant seperti dikutip BBC.
"Saya bisa paham kenapa fans merasa jengkel. Saya pun merasa jengkel. Fans adalah darah yang menghidupi permainan ini. Tanpa fans, sepakbola takkan menjadi seperti sekarang ini.
"Untuk membawa satu keluarga yang berjumlah 4 orang, ke sebuah pertandingan Premier League, sekarang kita perlu 130 pound (Rp 2,5 juta). Itu belum termasuk bensin, parkir, makan dan minum," kata Grant.(detikSport)

No comments:
Post a Comment