Jakarta - PSSI langsung mengambil sikap terkait kasus
dugaan sepakbola gajah pada pertandingan PSS Sleman melawan PSIS
Semarang. Mencium adanya indikasi pengaturan skor, federasi sepakbola
Indonesia itu segera melakukan investigasi.
Pada laga pamungkas babak delapan besar Divisi Utama Grup N yang digelar di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU), Minggu (26/10), PSS Sleman dan PSIS Semarang bermain tanpa gol sampai menit ke-80.
Namun, setelah itu kedua tim melakukan total lima gol bunuh diri. PSS Sleman lebih dulu melakukan dua gol bunuh diri. Setelah itu, giliran PSIS yang melakukan tiga gol bunuh diri sehingga kemenangan menjadi milik PSS Sleman dengan skor 3-2.
Kedua tim tersebut sebetulnya sudah memastikan diri melaju ke semifinal. Namun, kedua tim diduga menghindari posisi juara grup agar lepas dari ancaman Borneo FC yang berstatus runner-up di Grup P.
Sekjen PSSI Joko Driyono menilai, kejadian tersebut adalah masalah serius. Dia bahkan mencium adanya pengaturan skor pada pertandingan tersebut.
"Kami akan melakukan investigasi. Masalah ini serius. Ini seperti ada indikasi pengaturan skor," ungkap Joko melalui pesannya.
Investigasi tersebut, lanjut Joko, akan dilakukan sepenuhnya oleh Komisi Disiplin PSSI. Komdis PSSI nantinya akan mengkaji hukuman seperti apa yang akan diberikan, jika kedua tim terbukti melakukan pengaturan skor. Joko menyebut, ada dua kemungkinan hukuman bagi kedua tim itu.
"Hukumannya bisa menskors pelaku dan mendiskualifikasi klub yang diketahui sengaja melakukan pengaturan skor."
Joko menambahkan, langkah pertama yang akan dilakukan PSSI saat ini adalah menunggu laporan dari pengawas pertandingan di laga tersebut. "Saat ini Komdis yang akan yang bekerja. Terkait hukuman biarkan Komdis yang menentukan," kata Joko.(detikSport)
Pada laga pamungkas babak delapan besar Divisi Utama Grup N yang digelar di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU), Minggu (26/10), PSS Sleman dan PSIS Semarang bermain tanpa gol sampai menit ke-80.
Namun, setelah itu kedua tim melakukan total lima gol bunuh diri. PSS Sleman lebih dulu melakukan dua gol bunuh diri. Setelah itu, giliran PSIS yang melakukan tiga gol bunuh diri sehingga kemenangan menjadi milik PSS Sleman dengan skor 3-2.
Kedua tim tersebut sebetulnya sudah memastikan diri melaju ke semifinal. Namun, kedua tim diduga menghindari posisi juara grup agar lepas dari ancaman Borneo FC yang berstatus runner-up di Grup P.
Sekjen PSSI Joko Driyono menilai, kejadian tersebut adalah masalah serius. Dia bahkan mencium adanya pengaturan skor pada pertandingan tersebut.
"Kami akan melakukan investigasi. Masalah ini serius. Ini seperti ada indikasi pengaturan skor," ungkap Joko melalui pesannya.
Investigasi tersebut, lanjut Joko, akan dilakukan sepenuhnya oleh Komisi Disiplin PSSI. Komdis PSSI nantinya akan mengkaji hukuman seperti apa yang akan diberikan, jika kedua tim terbukti melakukan pengaturan skor. Joko menyebut, ada dua kemungkinan hukuman bagi kedua tim itu.
"Hukumannya bisa menskors pelaku dan mendiskualifikasi klub yang diketahui sengaja melakukan pengaturan skor."
Joko menambahkan, langkah pertama yang akan dilakukan PSSI saat ini adalah menunggu laporan dari pengawas pertandingan di laga tersebut. "Saat ini Komdis yang akan yang bekerja. Terkait hukuman biarkan Komdis yang menentukan," kata Joko.(detikSport)

No comments:
Post a Comment