Jakarta - PT. Liga Indonesia bersama Lembaga Anti
Doping Indonesia (LADI) akan melakukan tes doping kepada delapan klub
yang bermain di babak delapan besar ISL. Tes akan dilakukan mulai Selasa
(21/10/2014) di lokasi pertandingan setempat.
Kepastian dilaksanakannya tes anti-doping tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PT Liga Indonesia, Tigor Salomboboy, ketika ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (20/10) sore.
Nantinya tidak semua pemain akan dites doping. Tapi, ada enam pemain dari setiap tim diambil untuk tes doping. Keenamnya akan diperoleh melalui drawing nomor pemain yang dilakukan oleh PT LI, LADI, dan perwakilan dari tim sebelum pertandingan dimulai.
"Jadi penentuannya adalah dengan mengundi dari 18 pemain yang masuk dalam line-up. Setelah didapat 1 sampai 6, nomor itu kemudian dimasukkan dalam amplop dan amplop itu baru bisa dibuka saat 15 menit sebelum pertandingan terakhir," terang Tigor.
Ia menambahkan, meski pada akhirnya enam nomor yang ditetapkan. Tapi pada saat tes doping hanya tiga pemain atau samping yang melakukan tes. Sementara sisa tiga lainnya sebagai cadangan jika sewaktu-waktu nomor satu-tiganya cedera dan tidak bisa mengikuti tes doping.
"Sampling yang kami ambil tetap tiga dari masing-masing klub. Yang lainnya hanya cadangan. Jadi kalau nomor 1, 2, atau 3 nya ada yang tidak bisa ikut karena cedera mungkin atau apa, itu bisa digantikan nomor 4,5, dan 6," kata Tigor.
Sementara untuk hasilnya, Tigor menyebutkan, akan keluar satu bulan setelah tes. "Yang saya tahu memang prosesnya cukup lama. Karena harus diuji juga di luar negeri kan. Jadi setelah pemain ini tes sampling langsung di bawa ke Jakarta dan dikirim ke negara yang paling dekat. Kemungkinan di Thailand. Tapi kami masih rembukkan lagi."
Biaya Ditanggung PT. LI
Setidaknya untuk satu samping dari mulai proses pengambilan sampel, tes, hingga hasilnya keluar, bisa mengeluarkan biaya Rp 6 juta. Sebagai gambaran, satu tim akan ada tiga sampel. Sementara klub yang akan diuji ada delapan klub.
"Memang sekitar segitu (Rp 6 juta) untuk satu sampling. Semua itu ditanggung PT LI," ucap Tigor.
"Beberapa kami dibantu seperti botol dan pembelian peralatan lainnya tapi tetap untuk pembayaran dilakukan oleh kami. Ya, nggak apa-apalah (mahal) memang seperti itu."
Nantinya, lanjut Tigor, pihak klub tinggal menyediakan tempat dan pemainnya. "Karena otomatis bagian dari stadion harus ada yang disulap sebagai tempat tes doping juga."
Mengenai tim-tim yang akan melakukan tes, PT LI akan menyiapkan satu perwakilannya untuk membantu tim LADI di stadion. Sementara untuk tim dari LADI sendiri akan berisi dua orang. Tim dokter dari tiap klub pun diminta bekerja sama dalam hal pendataan obat atau suplemen yang dikonsumsi para pemainnya.
"Sebelum pertandingan tim dokter harus menuliskan obat-obat apa yang dikonsumsi. Minimal itu 72 jam terakhir. Ini kalau mengikuti aturan AFC ya," kata Tigor.
"Jadi, nanti setelah ditulis data itu disimpan dan tidak boleh dibuka. Baru bisa dibuka setelah ada pemain yang ketahuan menggunakan doping."
Tigor berharap hasil tes doping nanti tidak akan ada masalah dan pemain yang tes adalah pemain yang benar-benar memang ingin bermain.
"Kemungkinan karena ini random itu sudah mencakup semualah. Jadi pertandingan selanjutnya tidak perlu ada tes ini lagi. Makanya saya berharap pemain yang tanding ini adalah pemain-pemain yang memang benar ingin bermain," simpulnya. (detikSport)
Kepastian dilaksanakannya tes anti-doping tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PT Liga Indonesia, Tigor Salomboboy, ketika ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (20/10) sore.
Nantinya tidak semua pemain akan dites doping. Tapi, ada enam pemain dari setiap tim diambil untuk tes doping. Keenamnya akan diperoleh melalui drawing nomor pemain yang dilakukan oleh PT LI, LADI, dan perwakilan dari tim sebelum pertandingan dimulai.
"Jadi penentuannya adalah dengan mengundi dari 18 pemain yang masuk dalam line-up. Setelah didapat 1 sampai 6, nomor itu kemudian dimasukkan dalam amplop dan amplop itu baru bisa dibuka saat 15 menit sebelum pertandingan terakhir," terang Tigor.
Ia menambahkan, meski pada akhirnya enam nomor yang ditetapkan. Tapi pada saat tes doping hanya tiga pemain atau samping yang melakukan tes. Sementara sisa tiga lainnya sebagai cadangan jika sewaktu-waktu nomor satu-tiganya cedera dan tidak bisa mengikuti tes doping.
"Sampling yang kami ambil tetap tiga dari masing-masing klub. Yang lainnya hanya cadangan. Jadi kalau nomor 1, 2, atau 3 nya ada yang tidak bisa ikut karena cedera mungkin atau apa, itu bisa digantikan nomor 4,5, dan 6," kata Tigor.
Sementara untuk hasilnya, Tigor menyebutkan, akan keluar satu bulan setelah tes. "Yang saya tahu memang prosesnya cukup lama. Karena harus diuji juga di luar negeri kan. Jadi setelah pemain ini tes sampling langsung di bawa ke Jakarta dan dikirim ke negara yang paling dekat. Kemungkinan di Thailand. Tapi kami masih rembukkan lagi."
Biaya Ditanggung PT. LI
Setidaknya untuk satu samping dari mulai proses pengambilan sampel, tes, hingga hasilnya keluar, bisa mengeluarkan biaya Rp 6 juta. Sebagai gambaran, satu tim akan ada tiga sampel. Sementara klub yang akan diuji ada delapan klub.
"Memang sekitar segitu (Rp 6 juta) untuk satu sampling. Semua itu ditanggung PT LI," ucap Tigor.
"Beberapa kami dibantu seperti botol dan pembelian peralatan lainnya tapi tetap untuk pembayaran dilakukan oleh kami. Ya, nggak apa-apalah (mahal) memang seperti itu."
Nantinya, lanjut Tigor, pihak klub tinggal menyediakan tempat dan pemainnya. "Karena otomatis bagian dari stadion harus ada yang disulap sebagai tempat tes doping juga."
Mengenai tim-tim yang akan melakukan tes, PT LI akan menyiapkan satu perwakilannya untuk membantu tim LADI di stadion. Sementara untuk tim dari LADI sendiri akan berisi dua orang. Tim dokter dari tiap klub pun diminta bekerja sama dalam hal pendataan obat atau suplemen yang dikonsumsi para pemainnya.
"Sebelum pertandingan tim dokter harus menuliskan obat-obat apa yang dikonsumsi. Minimal itu 72 jam terakhir. Ini kalau mengikuti aturan AFC ya," kata Tigor.
"Jadi, nanti setelah ditulis data itu disimpan dan tidak boleh dibuka. Baru bisa dibuka setelah ada pemain yang ketahuan menggunakan doping."
Tigor berharap hasil tes doping nanti tidak akan ada masalah dan pemain yang tes adalah pemain yang benar-benar memang ingin bermain.
"Kemungkinan karena ini random itu sudah mencakup semualah. Jadi pertandingan selanjutnya tidak perlu ada tes ini lagi. Makanya saya berharap pemain yang tanding ini adalah pemain-pemain yang memang benar ingin bermain," simpulnya. (detikSport)

No comments:
Post a Comment