Santiago - Pada hari ketiga Homeless World Cup 2014,
Selasa (21/10/2014) waktu setempat, tim Indonesia awalnya dipaksa
menelan pil pahit berupa kekalahan yang sempat bikin peluang finis tiga
besar ada di ujung tanduk.
Akan tetapi, syukurlah, awan kelabu itu berhasil diusir jauh-jauh berkat kemenangan telak yang membuat 'Merah Putih' kini masih punya kans jadi juara.
Senyum riang mengawali hari Swananda Pradika cs setelah sehari sebelumnya, Senin (21/10), sukses menyapu bersih kemenangan. Keunggulan cepat 2-0 lewat gol Akhmad Fauzi dan Swananda ketika berhadapan dengan Irlandia Utara, yang jadi lawan pertama hari ini, pun tampaknya membuat poin penuh bisa kembali dalam genggaman.
Namun demikian, Irlandia Utara perlahan-lahan bisa mengejar dan menyamakan kedudukan, bahkan berbalik unggul dalam kedudukan 4-3. Sedari titik itu pertandingan berjalan sengit diwarnai dengan saling susul angka, kendati akhirnya Indonesia harus menerima kekalahan dengan skor 6-8.
Hasil tersebut membuat para pemain tertunduk lesu, seperti terpukul benar dengan hasil yang baru saja mereka dapati itu. Pelatih Bonsu Hasibuan tentu kecewa, bukan karena performa pemainnya saja tapi juga kepada cara mereka menyikapi kekalahan yang baru saja diterima.
"Kalian nggak fokus. Saya nggak ngerti kenapa kalian ngaco dalam menjalankan sistem. Operan 1-2 nggak bisa lihat teman. Ketika kalian dapat bola, kalian nggak bisa main di area lawan," tegas Coach Bonsu kepada para pemainnya usai pertandingan.
"Yang tidak saya suka ketika kalah kalian termenung seperti anak bayi. Senyum! Harus tetap senyum, tapi senyum penuh tanggung jawab bukan cuma cengengesan. Ketika kalian kalah ini perlu ditegaskan supaya otak kalian bangun. Berpikir dewasa. Saya takut kalian pulang dari sini nggak jadi orang karena kalian terlihat tidak menikmati permainan tadi, tidak punya semangat hidup.
"Kalau kayak
begini kalian seperti nggak punya motivasi. Saya perlu bicara karena
saya menganggap diri saya sendiri bisa berdiri lagi dari ajang Homeless
ini. Senyum. Nikmati," seru pria yang juga pernah menjadi kapten
Indonesia di ajang HWC tersebut berapi-api.

Mendengar kata-kata tegas dari Coach Bonsu tersebut, Swananda cs pada awalnya cuma bisa tertunduk. Tetapi tak lama berselang kepala mereka terangkat dan ketika sesi review tersebut selesai ditutup dengan pembacaan doa, sebuah kebiasaan yang senantiasa mereka lakukan, api semangat tampak kembali menyala di mata-mata mereka.
Kata-kata pelecut semangat dari Coach Bonsu itu terbukti tak sia-sia. Di laga kedua yang dijalani sore hari, menghadapi Korea Selatan, Indonesia langsung menggebrak dengan unggul 5-0 pada empat menit pertama. Lewat kombinasi dan pergerakan yang lebih mengalir, para pemain 'Garuda' pun terus-menerus membuat gol ke dalam gawang lawannya. Skor akhir 14-1 untuk kemenangan Indonesia.

Hasil itu membuat Indonesia berhasil mengamankan posisi tiga klasemen grup dengan koleksi 10 poin, di bawah Skotlandia (11 poin), dan Hongaria (12 poin). Sesuai peraturan, tiga tim terbaik dari Grup A sampai Grup H di babak penyisihan ini berhak melaju ke fase berikutnya untuk tetap memperebutkan predikat juara--kendatipun tim-tim lain di bawahnya juga masih punya kans meraih trofi kendatipun kelasnya berbeda.
Indonesia dan 23 tim lain kini akan dibagi ke dalam empat grup yang berisikan enam tim. Dua tim teratas dari fase grup tersebut bakal melaju ke babak delapan besar.(detikSport)

Akan tetapi, syukurlah, awan kelabu itu berhasil diusir jauh-jauh berkat kemenangan telak yang membuat 'Merah Putih' kini masih punya kans jadi juara.
Senyum riang mengawali hari Swananda Pradika cs setelah sehari sebelumnya, Senin (21/10), sukses menyapu bersih kemenangan. Keunggulan cepat 2-0 lewat gol Akhmad Fauzi dan Swananda ketika berhadapan dengan Irlandia Utara, yang jadi lawan pertama hari ini, pun tampaknya membuat poin penuh bisa kembali dalam genggaman.
Namun demikian, Irlandia Utara perlahan-lahan bisa mengejar dan menyamakan kedudukan, bahkan berbalik unggul dalam kedudukan 4-3. Sedari titik itu pertandingan berjalan sengit diwarnai dengan saling susul angka, kendati akhirnya Indonesia harus menerima kekalahan dengan skor 6-8.
Hasil tersebut membuat para pemain tertunduk lesu, seperti terpukul benar dengan hasil yang baru saja mereka dapati itu. Pelatih Bonsu Hasibuan tentu kecewa, bukan karena performa pemainnya saja tapi juga kepada cara mereka menyikapi kekalahan yang baru saja diterima.
"Kalian nggak fokus. Saya nggak ngerti kenapa kalian ngaco dalam menjalankan sistem. Operan 1-2 nggak bisa lihat teman. Ketika kalian dapat bola, kalian nggak bisa main di area lawan," tegas Coach Bonsu kepada para pemainnya usai pertandingan.
"Yang tidak saya suka ketika kalah kalian termenung seperti anak bayi. Senyum! Harus tetap senyum, tapi senyum penuh tanggung jawab bukan cuma cengengesan. Ketika kalian kalah ini perlu ditegaskan supaya otak kalian bangun. Berpikir dewasa. Saya takut kalian pulang dari sini nggak jadi orang karena kalian terlihat tidak menikmati permainan tadi, tidak punya semangat hidup.
"Kalau kayak
Mendengar kata-kata tegas dari Coach Bonsu tersebut, Swananda cs pada awalnya cuma bisa tertunduk. Tetapi tak lama berselang kepala mereka terangkat dan ketika sesi review tersebut selesai ditutup dengan pembacaan doa, sebuah kebiasaan yang senantiasa mereka lakukan, api semangat tampak kembali menyala di mata-mata mereka.
Kata-kata pelecut semangat dari Coach Bonsu itu terbukti tak sia-sia. Di laga kedua yang dijalani sore hari, menghadapi Korea Selatan, Indonesia langsung menggebrak dengan unggul 5-0 pada empat menit pertama. Lewat kombinasi dan pergerakan yang lebih mengalir, para pemain 'Garuda' pun terus-menerus membuat gol ke dalam gawang lawannya. Skor akhir 14-1 untuk kemenangan Indonesia.
Hasil itu membuat Indonesia berhasil mengamankan posisi tiga klasemen grup dengan koleksi 10 poin, di bawah Skotlandia (11 poin), dan Hongaria (12 poin). Sesuai peraturan, tiga tim terbaik dari Grup A sampai Grup H di babak penyisihan ini berhak melaju ke fase berikutnya untuk tetap memperebutkan predikat juara--kendatipun tim-tim lain di bawahnya juga masih punya kans meraih trofi kendatipun kelasnya berbeda.
Indonesia dan 23 tim lain kini akan dibagi ke dalam empat grup yang berisikan enam tim. Dua tim teratas dari fase grup tersebut bakal melaju ke babak delapan besar.(detikSport)

No comments:
Post a Comment