Jakarta - Tim nasional Indonesia U-19 harus mengubur
dalam-dalam impiannya untuk lolos ke Piala Dunia U-20. Mantan pemain Bob
Hippy menilai kegagalan timnas U-19 lantaran beban mereka terlalu berat
untuk dipikul.
Timnas U-19 memang bak primadona sepakbola Indonesia sejak menjadi juara Piala AFF U-19 tahun lalu dan lolos dari kualifikasi Piala Asia 2014. Ketika itu, semua masyarakat tanah air menaruh harapan kepada mereka untuk bisa menangkat derajat sepakbola Indonesia di tengah miskinnya prestasi.
Selama persiapannya menuju Piala Asia 2014, PSSI dan BTN telah mempersiapkan berbagai program ujicoba mulai dari tur Nusantara Jilid I dan II, hingga tur ke Timur Tengah serta tur ke Spanyol.
Namun, persiapan yang telah dilewati selama satu tahun itu tidak membuat timnas U-19 bisa melangkah lebih jauh di Piala Asia 2014. Mereka sudah dipastikan tersingkir setelah dikalahkan 1-3 oleh Uzbekistan dan Australia 0-1.
Secara target, timnas U-19 telah gagal memenuhinya, mengingat sejak awal tim besutan Indra Sjafri itu diharapkan bisa lolos ke semifinal Piala Asia 2014 agar bisa mendapatkan tiket ke Piala Dunia U-20.
Bob Hippy menilai kegagalan timnas U-19 bukan semata-mata karena kesalahan pemain atau pun pelatih. Dia menyebut karena beban mereka terlalu berat.
"Beban mereka ini terlalu berat. Seharusnya jangan bebani mereka secara mental. Mereka ini anak-anak masih muda. Biarlah mereka bermain tanpa beban. Tapi nyatanya ekspektasi masyarakat terlalu tinggi," tutur Bob Hippy dalam perbincangan dengan detiksport, Senin (13/10/2014).
Mantan anggota timnas saat menjuarai Piala Asia U-19 tahun 1961 itu pun menyoroti program training camp (TC) timnas U-19 yang dinilai terlalu lama. Hal itu yang membuat para pemain mengalami kejenuhan sehingga konsentrasi mereka menurun.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan jamannya saat melakukan persiapan di Piala Asia 1961. Kala itu tidak ada TC jangka panjang, pemain dibiarkan berkembang di kompetisi.
"Mereka melakukan TC terlalu lama, karena tidak ada kompetisi. Itu yang bikin jenuh. Apalagi mereka ini adalah anak-anak muda sehingga membuat konsentrasi mereka turun," tambah Bob.
"Waktu jaman saya, tidak ada itu TC jangka panjang berlama-lama. TC hanya sebentar-sebentar. Karena kami juga memantapkan diri lewat kompetisi," tambahnya.( detikSepakbola)
Timnas U-19 memang bak primadona sepakbola Indonesia sejak menjadi juara Piala AFF U-19 tahun lalu dan lolos dari kualifikasi Piala Asia 2014. Ketika itu, semua masyarakat tanah air menaruh harapan kepada mereka untuk bisa menangkat derajat sepakbola Indonesia di tengah miskinnya prestasi.
Selama persiapannya menuju Piala Asia 2014, PSSI dan BTN telah mempersiapkan berbagai program ujicoba mulai dari tur Nusantara Jilid I dan II, hingga tur ke Timur Tengah serta tur ke Spanyol.
Namun, persiapan yang telah dilewati selama satu tahun itu tidak membuat timnas U-19 bisa melangkah lebih jauh di Piala Asia 2014. Mereka sudah dipastikan tersingkir setelah dikalahkan 1-3 oleh Uzbekistan dan Australia 0-1.
Secara target, timnas U-19 telah gagal memenuhinya, mengingat sejak awal tim besutan Indra Sjafri itu diharapkan bisa lolos ke semifinal Piala Asia 2014 agar bisa mendapatkan tiket ke Piala Dunia U-20.
Bob Hippy menilai kegagalan timnas U-19 bukan semata-mata karena kesalahan pemain atau pun pelatih. Dia menyebut karena beban mereka terlalu berat.
"Beban mereka ini terlalu berat. Seharusnya jangan bebani mereka secara mental. Mereka ini anak-anak masih muda. Biarlah mereka bermain tanpa beban. Tapi nyatanya ekspektasi masyarakat terlalu tinggi," tutur Bob Hippy dalam perbincangan dengan detiksport, Senin (13/10/2014).
Mantan anggota timnas saat menjuarai Piala Asia U-19 tahun 1961 itu pun menyoroti program training camp (TC) timnas U-19 yang dinilai terlalu lama. Hal itu yang membuat para pemain mengalami kejenuhan sehingga konsentrasi mereka menurun.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan jamannya saat melakukan persiapan di Piala Asia 1961. Kala itu tidak ada TC jangka panjang, pemain dibiarkan berkembang di kompetisi.
"Mereka melakukan TC terlalu lama, karena tidak ada kompetisi. Itu yang bikin jenuh. Apalagi mereka ini adalah anak-anak muda sehingga membuat konsentrasi mereka turun," tambah Bob.
"Waktu jaman saya, tidak ada itu TC jangka panjang berlama-lama. TC hanya sebentar-sebentar. Karena kami juga memantapkan diri lewat kompetisi," tambahnya.( detikSepakbola)

No comments:
Post a Comment