Wednesday, 22 October 2014

Terancam Sanksi Komdis, Arema Siapkan Pembelaan

Malang - Arema Cronus kini terancam dijatuhi sanksi dari Komisi Disiplin PSSI gara-gara ulah oknum penonton pada laga melawan Persipura Jayapura. Kubu 'Singo Edan' menyiapkan pembelaan agar mereka terhindar dari hukuman.

Ancaman sanksi muncul setelah terjadi insiden penyalaan flare pada laga Arema versus Persipura di Stadion Kanjuruhan, Minggu (12/10/2014) lalu. Selain itu, dari tribune penonton juga terdengar nyanyian-nyanyian yang menjurus pada pelecehan rasial.

Kalau dianggap bersalah, Arema bisa dihukum bermain tanpa penonton saat menjamu Persela Lamongan dalam lanjutan babak delapan besar Indonesia Super League, Sabtu (25/10/2014) mendatang.

Nasib Arema akan ditentukan dalam sidang Komdis yang digelar hari ini, Kamis (23/10). Pihak Arema yang terdiri dari CEO Arema Iwan Budianto, manajer legal, manajemen, lima perwakilan suporter, serta panpel akan hadir di Jakarta untuk melakukan upaya pembelaan.

"Kami akan menghadiri sidang komdis hari ini, agendanya pembelaan. Dokumen pendukung kami sertakan sebagai bukti hasil investigasi," ujar juru bicara Arema, Sudarmadji, kepada detikSport, Kamis (23/10).

Sudarmadji menjelaskan, dokumen yang dibawa Arema berisi dua laporan, yang pertama laporan panpel pertandingan dan progress report dari tim tasfos. Di dalamnya juga memuat hasil investigasi dan rencana memerangi perbuatan buruk selama pertandingan.

"Kami ingin menyampaikan laporan secara komprehensif. Harapannya, panpel dan manajemen memiliki upaya edukasi terhadap penonton dan semua pihak untuk memerangi rasis maupun flare," katanya.

Dia menambahkan, klubnya serius dalam menuntaskan permasalahan ini, bukan cuma ketika terancam sanksi Komdis. Sebuah program jangka pendek diinginkan, yakni laga kandang terakhir melawan Persela bisa dinikmati oleh penonton.

"Sementara jangka panjangnya akan menjadi program reguler klub membebaskan Stadion Kanjuruhan dalam bentuk rasis dan flare dari edukasi yang dilakukan," tegas Sudarmadji.

Dalam kesempatan yang sama, Sudarmadji mengungkapkan bahwa insiden flare di tribune utara Stadion Kanjuruhan diduga kuat dilakukan oleh oknum suporter. Oknum tersebut membawa flare ke dalam stadion dengan menyimpannya di dalam bungkusan makanan.

"Jadi, flare dimasukkan ke dalam roti tawar. Kami tengah mempelajari semua modus yang digunakan, ini termasuk baru," ujarnya.

Temuan lain, lanjut dia, ternyata flare juga disimpan di dalam celana serta dititipkan kepada suporter wanita. Hal itu untuk menghindari pemeriksaan petugas saat oknum suporter melalui pintu tiket. "Juga ada flare ditarik dari luar stadion Kanjuruhan," sambung Sudarmadji.

Sudarmaji menambahkan, masuknya flare ke stadion sangat rawan dimanfaatkan pihak yang ingin membuat suasana stadion tidak nyaman serta mengganggu jalannya pertandingan.

"Apapun alasannya, flare sangat dilarang digunakan, flare juga rawan digunakan oknum tertentu untuk merusak suasana pertandingan," kata dia.(detikSport)

No comments:

Post a Comment