Malang - Arema Indonesia terancam melanjutkan kiprahnya
di Indonesia Super League (ISL) 2014 tanpa penonton gara-gara ulah
suporternya sendiri.
Pada pertandingan terakhirnya di babak 8 besar, kala menghadapi Persipura Jayapura hari Minggu (12/10/2014) lalu, pendukung mereka menyalakan kembang api, petasan, dan bernyanyi yang berbau rasial.
Diterangkan CEO Arema Iwan Budianto, pihaknya sudah dipastikan bertanding tanpa penonton saat melawan Persela Lamongan pada 25 Oktober. Bahkan sanksi itu bisa berlanjut sampai sisa kompetisi, termasuk apabila Arema lolos ke semifinal dan final.
"Lawan Persela kita tanpa penonton, dan sanksi juga berlaku jika Arema bermain di final nanti," ujar Iwan kepada wartawan, Kamis (16/10/2014).
Meski demikian, Arema masih diberi kesempatan untuk memberi laporan kejadian secara lengkap, dengan tenggat waktu sampai 7 hari. Dari situ, mungkin saja ada keringanan dari Komisi Disiplin (Komdis).
"Komdis menduga ada oknum yang memiliki kepentingan, agar sanksi ini dijatuhkan. Ini masih ada hubungannya dengan ISL dan IPL, ada oknum yang menginginkan citra laga ISL buruk," ucap Iwan.
"Jika Arema lolos ke babak semifinal nanti, sanksi akan diberlakukan apabila dalam laporan tidak berhasil mengungkap siapa biang dari insiden tersebut."
Ditambahkan Iwan, laporan yang sedang dikerjakan pihaknya sudah hampir 90 persen.
Sementara Panpel Arema Cronus Abdul Haris mengaku sudah melaporkan ke polisi soal insiden penyalahan flare, dan berharap aparat untuk mengamankan pelakunya.
"Kami juga melampirkan hasil investigasi atau laporan yang akan diserahkan ke komdis," katanya terpisah.
Polres Malang sendiri tengah menyelidiki pelaku dari perkara tersebut dengan meminta keterangan para saksi.(detikSport)
Pada pertandingan terakhirnya di babak 8 besar, kala menghadapi Persipura Jayapura hari Minggu (12/10/2014) lalu, pendukung mereka menyalakan kembang api, petasan, dan bernyanyi yang berbau rasial.
Diterangkan CEO Arema Iwan Budianto, pihaknya sudah dipastikan bertanding tanpa penonton saat melawan Persela Lamongan pada 25 Oktober. Bahkan sanksi itu bisa berlanjut sampai sisa kompetisi, termasuk apabila Arema lolos ke semifinal dan final.
"Lawan Persela kita tanpa penonton, dan sanksi juga berlaku jika Arema bermain di final nanti," ujar Iwan kepada wartawan, Kamis (16/10/2014).
Meski demikian, Arema masih diberi kesempatan untuk memberi laporan kejadian secara lengkap, dengan tenggat waktu sampai 7 hari. Dari situ, mungkin saja ada keringanan dari Komisi Disiplin (Komdis).
"Komdis menduga ada oknum yang memiliki kepentingan, agar sanksi ini dijatuhkan. Ini masih ada hubungannya dengan ISL dan IPL, ada oknum yang menginginkan citra laga ISL buruk," ucap Iwan.
"Jika Arema lolos ke babak semifinal nanti, sanksi akan diberlakukan apabila dalam laporan tidak berhasil mengungkap siapa biang dari insiden tersebut."
Ditambahkan Iwan, laporan yang sedang dikerjakan pihaknya sudah hampir 90 persen.
Sementara Panpel Arema Cronus Abdul Haris mengaku sudah melaporkan ke polisi soal insiden penyalahan flare, dan berharap aparat untuk mengamankan pelakunya.
"Kami juga melampirkan hasil investigasi atau laporan yang akan diserahkan ke komdis," katanya terpisah.
Polres Malang sendiri tengah menyelidiki pelaku dari perkara tersebut dengan meminta keterangan para saksi.(detikSport)
No comments:
Post a Comment